[Fanfic] Autumn Love #1

4 Jul

Hallooo~Fanfic ini adalah fanfic On-Going pertama di blog ini! Aku harap kalian suka yaa 🙂 hehee xD dan check kosakata korea yang ga dimengerti di sini!

Title : AUTUMN LOVE

Cast : Jung Eui-chul, Shin Ji-hwa

Author : Fhaheezh

Length : On-going [OG]

Genre : Drama-romance

Rating : PG-17

Helai daun yang gugur di awal musim gugur memenuhi halaman sekolah di Busan High School of Arts . Sepasang siswa dan siswi tengah bersantai di bawah pohon besar yang rindang.

“Lihat, daunnya mulai berguguran.. berarti musim gugur telah tiba..” ucap Shin Ji-hwa yang bersandar di bahu bidang milik Eui-cheol. Eui-cheol hanya terdiam memandangi helaian daun yang berjatuhan. “Sampai kapan ya kita bisa melihat musim gugur ini bersama?” tanya Ji-hwa lagi.

“Selamanya” jawab Eui-cheol yang kali ini menatap Ji-hwa.

“Guraeyo? Mm.. kalau begitu kau harus berjanji beberapa tahun ke depan kita akan melihat musim gugur bersama lagi, oke?” tanya Ji-hwa persis di depan wajah Eui-cheol. Eui-cheol hanya tersenyum mengangguk pelan dan bergantian menyandarkan kepalanya pada bahu Ji-hwa.

Eui-cheol dan Ji-hwa memang telah bersahabat lama. Mereka seperti kakak-adik bahkan lebih. Kasih sayang mereka melebihi kasih sayang apapun. Mereka saling melindungi, menyayangi dan mencintai. Meski Eui-cheol setahun lebih tua dari Ji-hwa, namun Ji-hwa tak sedikit pun menyimpan rasa canggung pada Eui-cheol.

Eui-cheol dan Ji-hwa sekolah di Busan High School of Arts, sebuah sekolah seni yang cukup bagus di daerah Busan. Meski satu sekolah, Eui-cheol dan Ji-hwa berbeda jurusan. Ji-hwa tergabung dalam jurusan seni rupa dan Eui-cheol dalam jurusan seni musik. Kondisi ekonomi keluarga mereka juga tak sejajar. Ji-hwa lebih dipandang sebagai keluarga kaya, sementara keluarga Eui-cheol cenderung lebih sederhana. Namun begitu hubungan kedua keluarga tersebut sangat baik.

~~~~~~

“Ayo cepat naik” ujar Eui-cheol yang bersiap mengayuh sepedanya. Ji-hwa pun lekas naik dan sepeda pun mulai dikayuh.

Sore hari di pinggir pantai Busan terlihat begitu indah. Eui-cheol terus mengayuh sepedanya sementara Ji-hwa terus bersenandung, tertawa kegirangan. Angin pantai menerpa wajah mereka dengan lembut. Bau pasir pantai tercium kuat. Suara burung-burung yang berterbangan kembali ke sarangnya pun terdengar jelas.

“Sampai bertemu besok! Jal ga!” ucap Ji-hwa dan Eui-cheol pun mulai kembali mengayuh sepedanya.

Rumah mereka berdua memang tak terlalu jauh, hanya berbeda blok. Tak lama setelah itu, Ji-hwa segera masuk ke dalam. Di dalam rumahnya, ayahnya terlihat asyik membaca koran sementara ibunya sedang menyibukkan diri di dapur menyiapkan makan malam.

“Eomma, minggu depan ajak keluarga Eui-cheol oppa makan bersama lagi ya? Kita kan sudah lama tidak makan bersama keluarga mereka?” pinta Ji-hwa merayu ibunya.

“Atur saja, ibu akan masakan makanan yang enak nanti, asal kau beri tahu ibu sebelumnya” ujar sang ibu. Ji-hwa mengangguk lalu berpindah pada ayahnya.

“Appa, aku sudah lama tidak jalan-jalan dengan Eui-cheol oppa, apa aku boleh jalan-jalan bersamanya lusa? Lusakan hari sabtu, boleh ya?” pintanya yang juga merayu sang ayah.

“Ne, asal pulang tepat waktu” jawab sang ayah. Ji-hwa pun mengangguk kembali dan segera berlari ke kamarnya.

~~~~

Beberapa kardus terlihat berserakan dan beberapa barang terlihat telah terbungkus rapi. Eui-cheol yang baru sampai bingung keheranan. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Ayahnya sibuk membungkus beberapa keramik dengan kertas koran dan memasukkannya ke dalam kardus.

“Aboji, mwohaeyo?” tanya Eui-cheol yang bingung.

“Ppalli wa, bantu ayah sini” perintah sang ayah. Eui-cheol pun hanya menurut dan membantu ayahnya membungkus beberapa keramik cantik milik keluarganya.

“Sebenarnya untuk apa keramik-keramik ini dibungkus dan di masukkan ke kardus?” tanya Eui-cheol yang masih tak mengerti.

“Ini minumlah, kau baru sampai pasti haus” ucap ibu Eui-cheol yang tiba-tiba datang dan memberikan secangkir teh hangat. Eui-cheol mengucapkan “terima kasih” dan meminumnya perlahan. “Ayah harus menjual keramik-keramik ini” lanjut ibunya.

“Mwo? Tapi kenapa? Keramik-keramik ini kan buatan ayah? Dan beberapa peninggalan kakek? Ada apa ayah? Ayah bisa ceritakan padaku” ujar Eui-cheol kaget.

“Kwaencanha, semua harta yang kita miliki saat ini tak bisa selamanya kita miliki, kau harus tahu itu” jelas ayahnya bijak.

Eui-cheol pun terdiam dan kembali menengguk tehnya.

“Bagaimana sekolahmu?” tanya ibu Eui-cheol memecahkan kesunyian.

“Baik, semua berjalan baik” jawab Eui-cheol diiringi senyum tipis. Pikirannya tak fkous setelah mendengar penjelasan ayahnya bahwa keramik-keramik antik itu akan segera dijual. Ia tahu, keramik-keramik itu adalah bagian penting dari hidup ayahnya.

Ayah Eui-cheol adalah seorang pembuat keramik handal. Ibunya pun dulu pemain musik. Bakat seni yang ia miliki adalah warisan biologis yang dibeikan keluarganya. Namun akhirnya Eui-cheol memilih untuk masuk ke jurusan seni musik daripada seni rupa, karena ketertarikannya yang lebih pada musik.

Di dalam kamarnya, Eui-cheol terus terdiam. Ia tahu keadaan keluarganya saat ini dalam keadaan bahaya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Bisa saja hari ini ia kehilangan keramik-keramik antik milik keluarganya, namun mungkin besok ia bisa saja kehilangan orang tuanya.

~~~~

Hari ini di sekolah Eui-cheol jarang sekali menampakkan senyumnya. Ia terus membungkam wajahnya dan memperlihatkan wajah murungnya. Ji-hwa sendiri tak mengerti kenapa sahabatnya menjadi begitu murung. Ji-hwa berusaha mencari tahu, namun tak ada teman sekelas Eui-cheol yang tahu. Sifat Eui-cheol yang pendiam dan tertutup dengan teman-teman sekelasnya menyulitkan Ji-hwa menemukan alasan mengapa Eui-cheol terus murung.

“Kau marah padaku?” tanya Ji-hwa di waktu senggangnya sepulang sekolah. Eui-cheol menggeleng. Dan tetap murung. “Kau sedang sedih? Ada masalah?” tanya Ji-hwa lagi. Namun Eui-cheol tetap diam. “Baiklah jika memang kau tidak ingin diganggu” lanjut Ji-hwa dan meninggalkan Eui-cheol. Namun tiba-tiba Eui-cheol menarik tangan Ji-hwa dan memeluknya.

“Teruslah seperti ini, diamlah untuk beberapa menit saja.. aku ingin melepaskan penatku sejenak dan menghirup udara segar untuk bisa sedikit bernafas lagi” ucap Eui-cheol yang semakin memeluk Ji-hwa erat.

Dua menit telah berlalu. Eui-cheol masih memejamkan matanya dan tetap memeluk Ji-hwa erat.

“Eui-cheol~ah.. kau tidur?” panggil Ji-Hwa. Eui-cheol membuka matanya dan melepaskan pelukkannya. “Kau tertidur ya?” tanyanya lagi.

“Mungkin” jawab Eui-cheol singkat. “Gomawoseo, Ji-hwa~ya..” lanjutnya sambil mengelus lembut rambut sepundak Ji-hwa.

“Sebetulnya ada apa?” tanya Ji-hwa penasaran.

“Musim gugur 10 tahun ke depan, aku masih bisa melihat musim gugur bersamamu kan?” tanya Eui-cheol. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang Ji-hwa sendiri tak tahu mengapa.

“Tentu” jawab Ji-hwa mengangguk. Ia masih menebak-nebak alasan mengapa pria tinggi dan tampan di depannya terus menekuk wajahnya.

“Ayo kita pulang” ucap Eui-cheol membuyarkan lamunan Ji-hwa. Mereka kembali pulang bersama dengan sepeda milik Eui-cheol.

“Eui-cheol~a, jika ada masalah katakan padaku saja, ara?” jelas Ji-hwa.

Eui-cheol mengangguk, “aku kan lebih tua darimu, sebaiknya panggil aku oppa”

“Sirheo” ucap Ji-hwa memalingkan wajahnya. Eui-cheol hanya tersenyum. “Oh iya, tadinya aku ingin mengajakmu pergi besok, kau mau tidak?” tanya Ji-hwa.

“Besok?… Entahlah lihat besok saja, tapi aku tidak janji ya!” ucap Eui-cheol.

“Oke, tapi kalau kau bisa, cepat hubungi aku oke?” ujar Ji-hwa. Mereka pun berpisah. Ji-hwa segera masuk ke dalam dan Eui-cheol kembali mengayuh sepedanya ke rumah.

~~~~

Matahri pagi bersinar cerah. Pagi-pagi sekali, Ji-hwa sudah bangun dan menyiapkan segala macam perlengkapan yang ia akan bawa jalan-jalan hari ini, termasuk bekal. Ia membuat bekalnya sendiri, menyiapkan minum, kamera, dan beberapa peralatan lainnya.

“Bu, aku berangkat dulu ya, sampai jumpa!” ujar Ji-hwa yang segera meninggalkan rumahnya dan berlari cepat ke rumah Eui-cheol.

Sesampainya di rumah Eui-cheol, ia sedikit kebingungan melihat keadaan rumah Eui-cheol yang sepi.

“Eui-cheol~ah! Eui-cheol~ah! Cheolli!” panggil Ji-hwa dari balik gerbang rumah Eui-cheol. Namun tetap saja tak ada yang menanggapinya dari dalam rumah. “Eui-cheol~ah! Cheolli~ya! JEONG EUI CHEOL!!” teriak Ji-hwa menggedor-gedor gerbang rumah Eui-cheol. Namun tetap tak ada yang menanggapinya. “Kemana perginya Eui-cheol?” batinnya.

Ji-hwa terdiam bersandar pada gerbang. Segores kekecewaan tersirat di wajahnya mengetahui keadaan rumah Eui-cheol yang kosong.

“Kau mencari Eui-cheol?” tanya seorang wanita yang berdiri tak jauh dari Ji-hwa.

Ji-hwa menoleh, “Ajumma?”

“Kau mencari Eui-cheol?” tanya wanita yang dipanggil ‘ajumma’ tersebut untuk yang kedua kalinya.

Ji-hwa mengangguk, “Ne, ajumma tahu dimana Eui-cheol?” tanyanya.

“Tadi malam, keluarganya pergi membawa beberapa kardus besar” ujar bibi tersebut.

“Kardus besar? Untuk apa?” tanya Ji-hwa heran.

“Entahlah, mereka pergi dengan mobil pick up terbuka, memang kau tidak diberitahu Eui-cheol kalau ia akan pergi?” tanya ajumma tersebut. Ji-hwa menggeleng kecewa. “Ya sudah, lebih baik kau pulang sekarang, ditunggu sampai kapanpun, Eui-cheol tidak akan pulang hari ini” ujar bibi tersebut dengan suaranya yang nyaris serak.

“Bibi tahu, mereka pergi untuk apa?” tanya Ji-hwa lagi.

“Entahlah, yang jelas mereka membawa beberapa barang berat seperti kulkas, televisi dan sepeda milik Eui-cheol juga ikut dibawa” ujar bibi tua itu. Ji-hwa mneoleh ke dalam pekarangan rumah Eui-cheol. Dan benar saja, sepeda yang biasa ia tumpangi sepulang sekolah tidak ada.

“Kalau begitu terima kasih ajumma, annyeonghigyeseyo” ucap Ji-hwa lalu meninggalkan bibi tua tersebut.

Perasaan Ji-hwa tercampu aduuk. Antara sedih, kecewa dan penasaran kemana perginya Eui-cheol. Dari apa yang ia dengar dari tetangga Eui-cheol, mereka pergi dengan membawa barang-barang berat dan dibawa dengan mobil pick up.

“Aku pulang” ucap Ji-hwa lemas.

“Lho? Kamu tidak jadi berangkat?” tanya ibu Ji-hwa yang heran melihat anak semata wayangnya pulang dengan wajah lusuh.

Ji-hwa menggeleng, “Eui-cheol pergi, aku sendiri tak tahu dia kemana” ujarnya dan tanpa banya kata ia segera meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya.

Ia hempaskan penat di tubuhnya yang ia bawa dari rumah Eui-cheol tadi. Ia begitu kecewa sampai-sampai ingin menangis. Bukan karena Eui-cheol yang tak ada di rumahnya, melainkan firasat buruknya terhadap Eui-cheol yang pergi diam-diam dengan membawa barang-barang di rumahnya.

“Mungkinkah dia akan meninggalkanku?” ucapnya pelan, takut kalau semua itu benar-benar terjadi.

~~~~

Hari-hari telah berlalu. Namun Ji-hwa masih murung karena Eui-cheol yang masih belum juga kembali. Sudah 5 hari, Eui-cheol tak memberi kabar apapun. Ia berkali-kali berusaha menelpon ke ponsel Eui-cheol namun nihil. Tak ada jawaban apapun. Ponselnya tidak aktif. Beberapa teman Eui-cheol pun banyak yang menanyai keberadaan Eui-cheol padanya. Begitupun dengan guru-guru, mengingat Eui-cheol adalah siswa yang cukup berprestasi di sekolahnya.

“Ji-hwa-ssi” panggil seseorang tak jauh dari tempat Ji-hwa berdiri.

“Choi Sonsaengnim? Museun iriyeyo?” tanyanya.

“Sudah hampir seminggu, Jung Eui-cheol tidak masuk. Kau sahabatnya kan? Pergi kemana dia?” tanya Guru Choi.

“Moreumnida, sonsaengnim. Dia tidak memberi kabar padaku, aku juga tidak tahu dimana dia sekarang” jawab Ji-hwa tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Apa dia ada masalah akhir-akhir ini? Apa dia pernah bercerita sesuatu padamu?” tanya Guru Choi lagi.

Ji Hwa menggeleng, “Eobseumnida” lanjutnya.

“Beri tahu ibu jika ada kabar darinya ya, ibu sangat cemas” ujar guru tersebut lalu meninggalkan Ji-hwa.

“Sebetulnya ada satu hal yang mencurigakan bu, tapi aku harap itu tidak benar” ucapnya pelan setelah guru Choi menghilang dari pandangannya.

Sepulang sekolah karena tak ada Eui-cheol, Ji-hwa pun harus pulang sendiri. Debur ombak pantai sore hari terdengar jelas di telinganya. Pikirannya kosong dan dibiarkan kakinya melangkah sendiri semaunya. Hingga akhirnya berhenti pada bibir pantai. Ia menghabiskan waktunya melihat sunset sendirian, untuk menghibur hatinya yang sedang kosong.

~~~~

“Aku pulang” ucapnya sesampainya di rumah. Wajahnya masih terlihat lesu meski sunset telah berusaha menghiburnya.

“Kau dari mana saja?” tanya ayah Ji-hwa. Suara berat itu membuyarkan lamunannya.

“Hah?”

“Ayah bilang kamu dari mana saja? Ini sudah setengah tujuh sore”

“Mianhae appa, aku hanya habis bermain-main di pantai” jawab Ji-hwa tak bersemangat. Namun aktifitas ayanya mengalihkan perhatiannya. “ Ayah, sedang apa?” tanyanya.

“Ayah akan dipindah tugaskan ke Seoul besok”

“Lalu?” tanya Ji-hwa cemas.

“Kita pindah, ayah sudah carikan tempat tinggal yang baru di Seoul, kemasi pakaianmu karena nanti malam kita akan berangkat” ujar ayahnya. Apa yang sang ayah ucapkan tentu membuatnya kaget. Pindah? Itu berarti berpisah dengan Eui-cheol?

“Ji-hwa, tadi Eui-cheol datang ke sini” ucap sang ibu yang kali ini juga ikut membuyarkan lamunannya.

“Apa? Eui-cheol? Ada apa dia kemari? Dia pergi kemana bu? Kenapa tidak sekolah?” tanya Ji-hwa bertubi-tubi.

“Pelan-pelan, tadinya ia ingin bertemu denganmu, tapi karena tadi kau belum pulang, jadi dia hanya menitipkan surat” ujar sang ibu. “ini..” lanjutnya sambil menyodorkan sepucuk surat beramplop biru muda. Tanpa banyak basa-basi, Ji-hwa segera naik ke kamarnya dan segera mambaca surat tersebut.

Untuk Ji-hwa, adikku, sahabat terbaikku,

Apa kabar? Hampir seminggu tak berjumpa denganmu, seperti berabad-abad rasanya. Bagaimana denganmu, apa kau juga rindu padaku? Yah, ku harap begitu. Setidaknya kau memimpikan aku dalam tidurmu.

Ji-hwa~ya, maaf untuk mengatakan ini. Tapi sejujurnya aku pun tak ingin mengatakannya. Aku terlalu takut jika ku katakan hal ini, yang ku takuti akan terjadi. Meski pada akhirnya memang akan terjadi.

Ji-hwa, orang tuaku terlibat hutang jutaan won. Ayahku telah berhasil melunasinya namun kesalahan terbesar ayahku adalah meminjam uang dengan lintah darat. Sehingga setiap hari kami selalu diteror. Setiap waktu pun aku tak bisa benafas lega. Aku cemas dengan keadaan orang tuaku. Jika aku sedang sekolah, mungkin saja sepulang sekolah orang tuaku sudah tidak ada. Renternir-renternir itu bisa saja mengambil orang tuaku dan.. yah kau tahu apa yang renternir perbuat pada korbannya.

Ji-hwa~ya, aku tidak bisa lama-lama tinggal di Busan. Kami sekeluarga akan segera pindah, entah tak tahu kemana yang jelas kami akan pergi menghindari renternir itu. Aku benar-benar minta maaf dengan terjadinya hal ini, ku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti dan tak akan terpisahkan lagi.

Sahabatmu, Jung Eui-cheol.

Tetesan air mata membanjiri wajah putih Ji-hwa. Tanpa pikir panjang ia kembali turun dan meninggalkan rumahnya. Membuat kedua orang tuanya yang tengah bersiap memasukkan koper ke bagasi mobil kebingungan.

Ji-hwa berlari secepat mungkin mencegah kepergian Eui-cheol. Sambil terus menangis dan menggenggam kuat kertas surat dari Eui-cheol ia terus menangis berteriak “Jangan pergi” seolah kata-kata tersebut dapat mencegah kepergian Eui-cheol.

“Eui-cheol~ah!” panggil Ji-hwa yang sudah banjir air mata. Eui-cheol yang bersiap naik ke mobil menoleh. Kaget.

“Ji-hwa? Kau..”

“Kenapa kau pergi? Katakan kenapa kau pergi!!” teriak Ji-hwa. Eui-cheol hanya diam mematung melihat sahabat yang paling ia cintai itu menangis histeris. “kau tidak lihat air mata ini? Kau kira aku bercanda? Kau kira aku mampu hidup tanpamu? KENAPA KAU PERGI JUNG EUI CHEOL?!” bentaknya lagi. Eui-cheol melangkah mendekat.

“Uljima.. jika kau terus menangis, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri” ucap Eui-cheol menghapus air mata Ji-hwa

“Kalau begitu jangan pergi! Nal ddona gajima!” pinta Ji-hwa merengek mengenggam kedua tangan Eui-cheol.

“Kau ingat, kau sendiri yang bilang 10 tahun ke depan kita akan tetap melihat musim gugur bersama? Kau ingat itu? Kita hanya tinggal menunggu, hingga musim gugur itu tiba. Tidak akan lama..” ujar Eui-cheol mencoba memberi pengertian pada Ji-hwa.

“Aku takut musim gugur itu tidak akan pernah datang lagi, jangan pergi ku mohon” pinta Ji-hwa kembali merengek terisak. Ia memeluk erat tubuh Eui-cheol yang bidang. Ia begitu lusuh dengan seragam sekolah yang masih melekat. Penat di wajahnya seolah dimuntahkannya saat itu juga.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam datang, Mobil milik Ji-hwa. Orang tuanya keluar dan terlihat cukup kaget melihat keadaan yang terjadi.

“Katakan padaku, kau akan tetap tinggal di sini! Keluargamu butuh uang berapa? Kau bisa minta padaku, aku akan minta pada ayahku!” isak Ji-hwa. “Appa, kau akan memberikan uang pada keluarga Eui-cheol kan? Benarkan? Ayah harus menolong mereka!” ujar Ji-hwa yang berlari pada ayahnya lalu kembali lagi pada pelukkan Eui-cheol. Ia terlihat begitu kacau. Orang tua Eui-cheol pun tak tega melihatnya. “Katakan, cepat katakan padaku! KATAKAN PADAKU SEKARANG JUGA KALAU KAU TIDAK AKAN PERGI!!! CEPAT KATAKAAaa..aan..” bentaknya. Tubuhnya jadi begitu lemas. Ayahnya pun segera menangkap Ji-hwa yang nyaris terjatuh.

“Ayo kita pergi nak” ucap sang ayah.

“SIRHEOYO!!!” teriak Ji-hwa yang meronta-ronta melepaskan genggaman ayahnya. Ia terus menjerit, menangis histeris. Eui-cheol pun tak berdaya melihat sahabatnya begitu kacau. Sahabatnya sejak kecil hingga ia duduk di kursi SMA. Eui-cheol tak bisa menahan air matanya.

“Pulanglah..” ucap Eui-cheol yang juga tak berdaya. Bibirnya seolah tak ingin mengatakan kata-kata itu. Air matanya pun kembali jatuh.

“Aku tidak mau, aku tidak mau! YA, Eui-cheol~ah, kau ingin aku memanggil mu oppa? Baik aku akan memanggilmu oppa, tapi jangan tingalkan aku.. JANGAN TINGGALKAN AKU!!!” teriaknya lagi. “AYAH LEPASKAN AKU!” bentaknya memecah kesunyian malam yang mulai datang.

“Ibu Jung, kalian pergi saja.. tidak apa-apa, biar kami yang menangani Ji-hwa” ucap ibu Ji-hwa lembut.

Orang tua Eui-cheol pun segera masuk ke dalam mobil pick up yang telah terisi penuh dengan barang-barang. Eui-cheol pun melangkah mundur untuk segera naik ke bagian belakang mobil sambil terus menatap Ji-hwa untuk yang terakhir kalinya.

“LEPASKAN AKU! EUI-CHEOL TOLONG AKU!!” pinta Ji-hwa yang terus berteriak. Air mata Eui-cheol pun kembali terjatuh membasahi wajahnya. Ibu Ji-hwa membantu ayahnya yang berusaha memasukkan Ji-hwa ke mobil karena mereka pun harus pergi meninggalkan Busan.

Ji-hwa dan Eui-cheol terus bertatapan. Keduanya menangis, namun Ji-hwa jauh lebih histeris. Dari luar mobil, Eui-cheol masil bisa melihat Ji-hwa yang terus meronta-ronta di dalam mobil meminta untuk segera keluar. Namun sang ibu terus menggenggam kedua tangan Ji-hwa.

Kedua mobil itu pun melaju ke arah yang berlawanan. Keduanya hanya bisa menangis. Eui-cheol hanya bsia mengulurkan tangannya berusaha bisa menarik Ji-hwa keluar dan memeluknya saat itu juga. Namun semua itu tidak mungkin, karena mobil mereka yang telah melaju berjauhan. Hingga keduanya tak dapat melihat satu sama lain. Mereka pun berpisah. Meninggalkan Busan, kota kelahiran mereka, kota yang penuh dengan petualangan persahabatan mereka.

10 tahun kemudian ………………………………

*To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: