[Info] Benarkah Bulan punya Ionosfer?

17 Nov

GREENBELT, KOMPAS.com — Bumi memiliki lapisan yang disebut ionosfer yang menjadi batas antara atmosfer Bumi dan ruang hampa di antariksa. Ionosfer juga merupakan tempat ketika sinar ultraviolet yang dihasilkan Matahari terpecah hingga menciptakan gas yang terionisasi.

Di Bumi, ionosfer memainkan peran penting dalam komunikasi. Misalnya, ionosfer memantulkan gelombang radio sehingga memungkinkan adanya transmisi gelombang jarak jauh. Ionosfer juga bisa berpengaruh pada pembacaan global positioning system (GPS) hingga mengakibatkan kesalahan pembacaan posisi suatu lokasi di muka bumi.

Para ilmuwan menduga bahwa bukan Bumi saja yang memiliki atmosfer. Bulan juga memilikinya. Wahana antariksa Uni Soviet, Luna 19 dan 22, menemukan adanya partikel bermuatan beberapa kilometer di atas permukaan Bulan. Jumlahnya 1.000 elektron per sentimeter kubik. Teleskop radio pun menemukan tanda-tanda ionosfer.

Meski demikian, selama bertahun-tahun, ilmuwan belum bisa meyakini bahwa yang mereka temukan adalah ionosfer. Hal ini dikarenakan Bulan adalah benda langit yang tidak punya atmosfer. Ilmuwan bertanya-tanya, bagaimana mungkin benda langit yang tidak punya atmosfer memiliki ionosfer?

Memang, proses radioaktif di interior Bulan menghasilkan gas yang bisa “merembes” keluar ke permukaannya. Namun, gas yang dihasilkan tidak bisa membentuk lapisan yang tebalnya sepermiliaran atmosfer Bumi. Ilmuwan akhirnya lebih menyebutnya eksosfer, bukan atmosfer ataupun ionosfer.

Misteri ionosfer di Bulan akhirnya terjawab berkat penelitian Tim Stubbs, ilmuwan berusia 30 tahunan yang bekerja di Goddard Space Flight Center di NASA. Menurutnya, sesuatu yang kini diyakini sebagai ionosfer Bulan sebenarnya adalah debu Bulan yang “mengapung” di permukaannya.

Seperti diuraikan dalam artikel Physorg, Selasa (15/11/2011), partikel debu Bulan yang tertumbuk oleh sinar ultraviolet bisa terionisasi. Tumbukan itu bisa menghasilkan muatan listrik cukup yang bisa terdeteksi sebagai ionosfer.

Adanya “ionosfer” yang tersusun atas gas ini merupakan hal baru dalam sains. Belum ada ilmuwan yang mengetahui karakteristik dan perilakunya pada siang ataupun malam hari. Belum ada pula yang mengetahui bagaimana medan ini membantu komunikasi di Bulan nantinya. Hasil penelitian Stubbs dipublikasikan di jurnal Planetary and Space Science yang terbit pada 13 Oktober 2011 lalu.

Source and credit to KOMPAS.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: